Share It
Berita Unik & Terkini

Pemerintah RRC Akan Batasi Penggunaan Smartphone di Kalangan Anak-anak
August 10, 2023

Pemerintah RRC Akan Batasi Penggunaan Smartphone di Kalangan Anak-anak

China kembali menarik garis tegas yang memotong kebebasan sipil dan pilihan rakyat. Regulator siber China baru-baru ini mengusulkan batasan penggunaan gawai untuk internet bagi anak-anak dan remaja.

Anak-anak yang berusia antara 16 dan 18 tahun boleh menggunakan gawai selama dua jam sehari. Antara 8 dan 16 tahun hanya satu jam sehari. Di bawah 8 tahun, hanya 8 menit.

Sekali lagi, hanya 8 menit. Ada pembatasan jam buat penggunaan internet juga. Internet seluler tidak boleh digunakan dari 10 malam sampai jam 6 pagi.

Di atas kertas ini bersifat pilihan. Orang tua bisa menerapkannya atau mengabaikannya sama sekali. Namanya juga pilihan. Tetapi kita perlu tahu bagaimana sesuatu yang bersifat pilihan diterapkan di China.

Perusahaan teknologi sudah merasakan dampaknya. Saham-saham korporat teknologi dan informasi berguguran minggu lalu; Alibaba turun lebih dari dua persen dan Tencent turun hampir setengah persen. Pertanyaannya adalah mengapa China melakukan ini?


Sumber foto: pexels.com

Alasannya karena anak-anak menghabiskan waktu terlalu lama dengan gawai. Penyakit mata meningkat tajam, demikian juga kecanduan internet dan gawai.

Yang akan dilakukan pemerintah China adalah memaksakan batasan tegas sejauh mana anak-anak dan remaja boleh menggunakan gawai. Sebetulnya Beijing sudah melakukan ini sebelumnya pada tahun 2021.

Saat itu pemerintah China mengontrol game online dan membatasi para gamer remaja hanya boleh bermain selama tiga jam seminggu. Tetapi apakah pembatasan keras ini berhasil?

Untuk merespons persoalan ini, pertama-tama kita perlu memahami masalah waktu layar (screen time), yakni waktu yang digunakan untuk menatap layar elektronik, baik itu televisi, komputer, gawai pintar, tablet digital hingga permainan video. Ini menjadi masalah serius di kalangan anak-anak.

Para dokter mengungkapkan batas ideal adalah dua jam sehari. Lalu, berapa banyak waktu yang sebenarnya dihabiskan anak-anak dan remaja? Lebih dari dua jam. Di AS sekitar tujuh setengah jam per hari. Di India sekitar 7,3 jam setiap hari. Lebih dari 60 persen anak-anak India menatap layar gawai lebih dari 2 jam. Di Indonesia angkanya bahkan mencapai 8 sampai 10 jam sehari.

Konsekuensinya, ini mendatangkan pelbagai gangguan kesehatan, seperti tidur yang tidak teratur, perubahan suasana hati, ngemil berlebihan, dan kelelahan. Intinya penggunaan gawai yang berlebihan ini sama sekali tidak dikehendaki dan merusak.


Sumber foto: pexels.com

Anak-anak tidak seharusnya menghabiskan tujuh jam dengan gawai setiap sehari. Kebanyakan yang ditonton bukan konten berkualitas, tapi lebih sering bermain game atau menonton reels. Jadi tujuan pemerintahan China ini bagus, tetapi bagaimana dengan metodenya?

Adakah negara-negara lain yang menjalankan strategi serupa? Ada walau tidak banyak. Taiwan, sebagai misal, melakukannya. Para orang tua di Taiwan secara hukum berkewajiban membatasi waktu layar anak-anak dan remaja.

Memang tidak ada batasan waktu yang tegas. Pemerintahan hanya meregulasi, “tidak melewati waktu yang wajar". Jika orang tua mengabaikan ini, mereka bisa didenda hingga US$ 600.

Harga yang dibayar untuk itu sudah lebih dari cukup. Taiwan juga telah melarang gawai untuk anak-anak di bawah usia dua tahun. Korea Selatan adalah contoh lain.

Pemerintah Korea Selatan membatasi akses game online bagi anak-anak mulai tengah malam hingga pukul 6 pagi. Anak-anak tidak bisa bermain on line sepanjang rentang waktu ini. Tapi apakah pembatasan ini berhasil?

Sebagai permulaan, memaksakan aturan ini tak ubahnya mimpi buruk. Lebih dari 20 persen populasi China berusia di bawah 18 tahun. Bagaimana mengatur mereka semua? Apakah dengan meminta orang tua untuk mengambil dawai anak-anak atau mengubah perangkat lunak untuk membatasi waktu layar? Tidak ada metode yang ideal. Perusahaan teknologi mengatakan hal itu nyaris mustahil. Orang tua dan anak-anak akan selalu menemukan celah.

Itu hanya satu bagian dari masalah. Yang tak kalah ruwetnya adalah konsepnya. Haruskah pemerintah bertanya kepada anak-anak apa dan berapa banyak yang harus ditonton? Ini ibarat berjalan di atas lereng yang licin.

Dengan logika yang sama, bukankah rokok dan alkohol juga mesti dilarang? Melarang atau mengekang tidak selalu menjadi jawaban terbaik, bahkan bisa berefek kontraproduktif.

Anak-anak dapat tumbuh dan berkembang dengan membenci orang tua atau menganggap diri mereka tidak dapat dipercaya menggunakan gawai. Kita tidak ingin itu terjadi.

Solusi yang terbaik tetap digerakkan oleh orang tua. Orang tua tahu apa yang terbaik untuk anak-anak mereka. Yang mereka butuhkan adalah nasihat dan rencana yang baik, bukan gerakan penegakan hukum. Ini memang tips lama yang bagus, setelah itu semua tentang kreativitas ibu bapak.

Kita sadar sulit untuk membuat anak-anak mau mendengarkan, tetapi itu berlaku untuk semuanya, bukan hanya seputar waktu layar. Ini tidak seperti menyuruh anak-anak menyantap sayur, menyelesaikan pekerjaan rumah tepat waktu atau tidur saat kita memintanya.

Kita perlu mencari cara terbaik membuat anak-anak atau remaja melakukan hal-hal ini. Hal yang sama juga dengan batasan waktu layar. Tidak ada bedanya.

Tugas negara bukan untuk ikut campur dalam mengasuh anak, melainkan memberi tahu orang tua apa yang menjadi keinginan bersama dan bergerak atau bekerja sama menuju tujuan tersebut.