Share It
Berita Unik & Terkini

Tren Konsumerisme di Masa Mendatang, Bagaimana Jadinya di Tahun 2030?
January 21, 2023

Tren Konsumerisme di Masa Mendatang, Bagaimana Jadinya di Tahun 2030?

Ericsson Consumer Lab telah merilis sebuah laporan tahunan mengenai 10 tren konsumen dalam sebuah penelitian berjudul “Life in a Climate-Impacted Future”.

Publikasi bulan Januari 2023 ini merupakan edisi kedua belas dari laporan tersebut, di mana tahun ini membahas kekhawatiran, harapan, serta tindakan teknologi yang diambil secara pribadi oleh konsumen terkait dengan isu iklim pada 2030.

Hampir 99% dari 15.000 lebih pengguna awal teknologi atau sering disebut sebagai early adopter di dunia yang berkonsultasi dengan Ericsson (NASDAQ: ERIC) mengatakan bahwa mereka berekspektasi untuk dengan proaktif menggunakan internet dan solusi berbasis konektivitas pada 2030 untuk mengatasi dampak perubahan iklim dan pemanasan global secara pribadi.

Responden memiliki kekhawatiran akan kondisi iklim yang diyakini semakin memburuk

Sekitar 83% responden percaya bahwa dunia akan mencapai atau melampaui tingkat pemanasan global hingga 1,5°C (di atas tingkat pra-industri), yang telah ditentukan dalam perjanjian internasional sebagai batas atas dari cuaca ekstrem dan memungkinkan adanya konsekuensi negatif dari iklim.

Sekitar 55% early adopter di wilayah metropolitan percaya bahwa perubahan iklim akan berdampak negatif pada kehidupan mereka sehingga mereka akan beralih untuk menggunakan koneksi sebagai solusi.

Kekhawatiran utama responden meliputi: biaya hidup, akses ke energi dan sumber daya material, serta kebutuhan akan konektivitas yang aman dan dapat diandalkan di masa-masa sulit saat cuaca sedang kacau. Sekitar 59% responden percaya bahwa inovasi dan teknologi akan menjadi salah satu hal krusial untuk mengatasi tantangan sehari-hari yang disebabkan oleh perubahan iklim di 2030-an.


Sumber foto: pexels.com

Koneksi yang cepat dibutuhkan oleh konsumen untuk menghadapi adanya perubahan iklim

Lebih dari 15.000 early adopter Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR), dan asisten virtual cerdas atau digital assistants di 30 kota secara global diminta untuk mengevaluasi 120 ide layanan digital di 15 area, mulai dari upaya adaptasi terkait iklim dalam kehidupan sehari-hari hingga cara menangani cuaca yang buruk.

Magnus Frodigh, Head of Ericsson Research, mengatakan, “Konsumen secara jelas mengatakan bahwa koneksi internet yang andal dan tangguh akan menjadi sangat penting bagi kehidupan sehari-hari mereka, serta upaya pribadi mereka untuk mengatasi perubahan iklim, karena mereka memperkirakan perubahan cuaca ekstrem dan dampak negatif dari iklim akan lebih umum terjadi. Konsumen tidak hanya mengharapkan konektivitas yang dibutuhkan tersedia dalam skala global, tetapi juga tersedia dengan cepat.”

10 pengelompokan tren konsumen berdasarkan Ericsson Consumer Lab

Dari hasil data yang dikumpulkan, para ahli di Ericsson Consumer Lab membuat 10 area tren untuk mengelompokkan jawaban konsumen.

1. Pemotong biaya
Layanan digital akan membantu konsumen mengendalikan biaya makanan, energi, dan biaya perjalanan dalam situasi iklim yang tidak stabil. Lebih dari 60% early adopter koneksi di perkotaan mengkhawatirkan biaya hidup yang lebih tinggi di masa depan.

2. Koneksi yang tidak terputus
Koneksi internet yang dapat diandalkan akan menjadi hal yang semakin penting saat cuaca semakin buruk. Sekitar 80% early adopter di perkotaan percaya bahwa ada pelacak sinyal pintar yang dapat menunjukkan area jangkauan yang optimal selama bencana alam di tahun 2030-an.

3. Mobilitas yang tidak terburu-buru
Jadwal yang ketat mungkin sudah ketinggalan zaman karena regulasi mengenai iklim dan efisiensi energi telah mengubah arti dari fleksibilitas. Sekitar 68% responden akan merencanakan aktivitas menggunakan sistem penjadwalan yang optimal berdasarkan biaya energi, bukan berdasarkan efisiensi waktu.

4. S(AI)fekeepers
AI diharapkan dapat mendukung layanan yang akan melindungi konsumen ketika cuaca semakin tidak terduga dan tidak stabil. Hampir setengah dari early adopter di perkotaan mengatakan bahwa mereka akan menggunakan sistem peringatan cuaca yang dipersonalisasi untuk keselamatan mereka.

5. Iklim kerja baru
Kendala jejak karbon pada perusahaan, kenaikan biaya, dan percepatan digitalisasi akan membentuk rutinitas kerja di masa depan. Tujuh dari sepuluh memperkirakan perusahaan AI merencanakan pekerjaan secara commute, tugas-tugas, dan sumber daya untuk meminimalkan jejak karbon terkait pekerjaan.

6. Smart water
Tahun 2030 nanti air akan menjadi sesuatu yang langka, untuk itu para konsumen mengantisipasi adanya layanan air yang lebih cerdas dan akan menggunakan kembali air. Hampir setengah dari early adopter urban mengatakan bahwa mereka akan menggunakan peralatan canggih untuk mengumpulkan air di atap, balkon, dan jendela yang akan otomatis terbuka ketika hujan turun untuk dikumpulkan dan dibersihkan.

7. The Enerconomy
Layanan berbagi energi digital dapat meringankan beban kenaikan biaya energi di tahun 2030-an. Energi dapat menjadi mata uang karena 65% early adopter di perkotaan memperkirakan konsumen akan dapat membayar barang dan jasa dalam kWh menggunakan aplikasi seluler pada tahun 2030-an.


Sumber foto: pexels.com

8. Less is more digital
Penggantian produk digital dapat menunjukkan status karena membeli sesuatu secara berlebihan dapat menghabiskan biaya yang banyak dan dikritik secara sosial. Dematerialisasi kebiasaan konsumsi dapat meningkat karena seper tiga early adopter di perkotaan yakin bahwa mereka akan menggunakan aplikasi belanja yang menyarankan alternatif digital dari produk fisik.

9. Natureverse
Merasakan suasan alam di kota tanpa harus bepergian akan menjadi standar di tahun 2030 saat terjadinya perubahan iklim secara terus-menerus sehingga bepergian pun harus terbatas. Empat dari sepuluh early adopter akan menggunakan layanan perjalanan virtual yang memungkinkan mereka untuk merasakan cagar alam dan jalur pegunungan seolah mereka benar-benar ada di sana.

10. Climate cheaters
Para responden mengatakan bahwa konsumen akan selalu menemukan jalan pintas untuk mengatasi pembatasan lingkungan yang semakin ketat yang disebabkan oleh harga yang tinggi dan adanya penjatahan energi dan air. Lebih dari setengah early adopter urban memprediksikan aplikasi peretasan daring akan memungkinkan para oknum untuk menggunakan air dan listrik milik tetangga secara ilegal.

Itu dia data pengelompokan yang dibuat berdasarkan survei dari Ericsson Consumer Lab yang dilakukan di 30 kota di dunia pada tahun 2022.