Share It
Berita Unik & Terkini

Mensos Tri Risma Akan Surati Pemda Terkait Fenomena Ngemis Online
January 17, 2023

Mensos Tri Risma Akan Surati Pemda Terkait Fenomena Ngemis Online

Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini menyoroti fenomena konten 'mengemis online' di media sosial TikTok. Risma mengaku akan mencari rujukan undang-undang untuk melarang hal itu. "Saya imbauan ke daerah, tugas saya itu untuk menjalankan itu, itu memang nggak boleh," kata Risma di Tambun Selatan, Bekasi, Minggu (15/1/2023).

Risma mengatakan pihaknya bakal berkirim surat ke Pemda terkait. Menurutnya, mengemis tidak dibolehkan melalui platform apa pun. "Nanti saya surati ya, kemungkinan sudah jadi. Ndak, ndak (surat ke kepolisian). Saya di Dinsos Kota itu juga nggak boleh orang ngemis pun, nggak boleh ya. Itu nggak, nggak boleh, jadi ada perda-nya saat itu," ujar Risma.

Belakangan publik dihebohkan live streaming di TikTok yang memperlihatkan seseorang mengharapkan hadiah usai melakukan suatu aktivitas. Terbaru, ada orang tua yang mandi di lumpur untuk menarik perhatian pengguna TikTok lainnya.


Sumber foto: kompasiana.com

Fenomena 'mengemis online' dengan cara live di TikTok sedang ramai menjadi pembahasan warganet. Hal itu karena sejumlah orang yang mengaku kreator melakukan siaran langsung atau live di TikTok dengan melakukan kegiatan ekstrem atau tak wajar. Mereka memanfaatkan fitur 'gift' yang ada di TikTok dan berharap bisa mendapatkan gift dengan jumlah banyak dari penonton dan kemudian menukarnya dengan uang.

Berendam di air hingga mandi lumpur

Beberapa konten yang banyak disoroti warganet adalah live di TikTok dengan cara berendam di air hingga mandi lumpur. Fenomena 'mengemis online' dengan cara-cara tersebut tidak hanya dilakukan satu orang, namun juga sejumlah orang. Bahkan juga orang tua atau lansia.

Lantas, mengapa fenomena munculnya orang-orang ngemis online ini bisa terjadi?

Terkait fenomena 'mengemis online' di TikTok, Sosiolog dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Drajat Tri Kartono menyebut pemicunya bisa dua hal. Salah satunya karena kesadaran pelaku yang mengetahui bahwa ada ruang baginya via TikTok untuk mendapatkan simpati, perhatian, dan uang. Ramainya fenomena ini menurut Drajat karena pelaku mengetahui bahwa orang Indonesia memiliki kedermawanan sosial yang tinggi. "Kedermawanan orang Indonesia nomor satu di dunia. Artinya orang Indonesia bisa dipengaruhi untuk berbelaskasihan, memberi ini-itu," kata dia saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (7/1/2023).


Sumber foto: detik.com

Kebutuhan hingga jadi peluang

Selanjutnya, faktor yang memicu munculnya fenomena live TikTok dengan cara yang aneh untuk mendapat 'gift' dalah karena seseorang tersebut memang membutuhkan. Kedermawanan yang tinggi dan juga adanya kebutuhan seseorang inilah yang menurut Drajat menjadi peluang para 'pengemis online' tersebut muncul. Namun hal itu juga bisa dipengaruhi karena adanya pola konsumsi seseorang. "Pola konsumsi ingin ini-itu nggak punya uang, jadi dia memanfaatkan kesempatan itu," kata dia.

Revolusi industri 4.0 hingga memanfaatkan rasa iba

Menurut Drajat tren 'ngemis online' adalah dampak revolusi industri 4.0 di mana inovasi yang muncul menyebar di banyak dimensi salah satunya dimensi filantropis. Ia mengatakan, pola meminta-minta baik di dunia nyata maupun dunia virtual menurutnya sama, yakni memanfaatkan manajemen kesan atau impression management. "Orang melakukan pengelolaan di penampilannya entah pada pakaian, pada tindakan dan sebagainya dalam rangka menimbulkan rasa iba dan peduli orang lain sehingga orang lain memberikan bantuannya," kata dia.

Sayangnya ia mengatakan, untuk melihat apakah seseorang pura-pura miskin atau benar-benar butuh di dunia nyata lebih mudah dilakukan. Kondisi tersebut berbeda halnya ketika dilakukan di dunia maya atau digital. "Di dunia virtual, sulit untuk mengukur kesan apakah orang benar-benar miskin atau tidak, atau hanya penampilannya saja," kata dia.