Share It
Berita Unik & Terkini

Peluncuran Baby Melon Hikapel, Melon Seukuran Apel oleh UGM
January 14, 2023

Peluncuran Baby Melon Hikapel, Melon Seukuran Apel oleh UGM

Peneliti sekaligus Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Budi Setiadi Daryono melakukan inovasi unik berupa buah melon seukuran apel. Buah melon seukuran apel ini dinamai baby melon hikapel. Inovasi tersebut diluncurkan pada 2021 dan mendapat antusiasme tinggi di kalangan masyarakat. Buah tersebut bahkan mampu menembus pasar perdagangan yang cukup kompetitif. Lantas seperti apa buah baby melon hikapel?

Mengenal baby melon hikapel

Dilansir dari laman UGM, baby melon hikapel berukuran layaknya apel dengan bobot hanya 250 gram. Baby melon hikapel bahkan mudah digenggam dan dibawa kemana-mana. Berbeda dengan melon, kulit baby melon hikapel tidak bertekstur dan halus dengan warna krem hingga oranye. Dari sisi kandungan, baby melon hikapel diklaim mengandung senyawa beta karoten, vitamin C, dan beberapa mineral. "Beta karoten paling tinggi di atas 563 mikrogram per 100 gram buah," ujar Budi, dilansir dari Antara.


Sumber foto: baliekbis.com

Dari segi rasa, baby melon hikapel memiliki tingkat kemanisan yang lebih tinggi dan aroma wangi yang khas. Menurut Budi, baby melon hikapel ini juga tidak terkontaminasi oleh senyawa ethrel yang berbahaya. Selain itu, buah unik ini juga rendah pestisida sehingga aman untuk dikonsumsi. "Varietas ini sudah tercatat dalam Daftar Umum PVT dan terdaftar di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman, ditanam dengan aman sehingga bebas dari senyawa ethrel dan pestisida," tandas dia.

Terinspirasi oleh keluhan ibu-ibu

Selama kurang lebih 25 tahun terakhir, Budi berfokus meneliti melon. Dia bersama dengan tim telah menghasilkan inovasi sebanyak 17 produk dengan 16 di antaranya bisa dikonsumsi. Sementara 1 lainnya tidak dapat dikonsumsi yakni gama melon parfum yang dimanfaatkan dalam industri kosmetik seperti untuk bahan baku parfum, sampo, dan lainnya. Salah satu hasil inovasinya adalah hikapel yang mendasari kemunculan baby melon hikapel.

Budi mengaku terinspirasi untuk membuat melon seukuran apel dari keluhan perkumpulan ibu-ibu sosialita di Yogyakarta dan Jakarta. Saat itu, pada 2011, ibu-ibu itu ditawari produk hasil risetnya yaitu Melodi Gama 1, 2, dan 3 serta melon GMB dan Tacapa yang dirakit dari 2008-2010. Namun, mereka mengeluhkan berat dan besarnya buah melon pada umumnya. Bahkan, kondisi tersebut membuat buah melon tidak praktis dibawa ke manapun.

"Ribet katanya, selain itu juga tidak habis sekali makan karena besar sehingga harus disimpan di kulkas yang tentunya memakan tempat," kata Budi. Berangkat dari kegelisahan itu, Budi dan tim merakit kultivar melon baru. Pada akhir 2012, bersamaan dengan lahirnya putra bungsung bernama Fadhil Hikari Setiadi yang biasa dipanggil Hika, inovasi buah melon hikadi apel selesai. Pada 2015-2017, hikadi apel kembali dikembangkan dari hasil riset pendanaan RISPRO KPDP Kemenkeu 2015-2017.


Sumber foto: solopos.com

Inovasi buah melon terus dilakukan oleh Budi dan tim. Hingga pada 2021, tim peneliti UGM itu meluncurkan baby melon hikapel, melon yang seukuran buah apel. Jika dibandingkan dengan melon, baby melon hikapel memiliki masa tanam yang relatif lebih cepat. Jika melon membutuhkan waktu tanam 90 hari, baby melon hikapel hanya 60 hari saja. Saat ini, hasil riset tersebut sudah dibudidayakan di sejumlah tempat di Yogyakarta yaitu Madurejo, Kalasan, dan Panggang.

Namun, Anda juga berkesempatan untuk menanamnya sendiri. Sebab, Budi dan tim juga mengembangkan benih melon hikapel. Benih buah melon hikapel ini dipasarkan sebagai benih unggul untuk menguatkan industri benih nasional. Kabar baiknya, Budi memastikan bahwa baby melon hikapel bisa ditanam di manapun. Namun, Budi lebih merekomendasikan agar buah tersebut ditanam di dataran rendah.

"Bisa di seluruh wilayah Indonesia, namun perlu dan lebih baik ditanam di low land/ dataran rendah (kurang dari 500 meter dpl)," kata Budi kepada Kompas.com, Rabu (11/1/2023). "Jika di high land, pertumbuhan dan perkembangannya tidak optimal," tandasnya.