Share It
Berita Unik & Terkini

Waspada Penyakit Legionellosis Mengintai, Begini Gejalanya
September 30, 2022

Waspada Penyakit Legionellosis Mengintai, Begini Gejalanya

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyampaikan peringatan kewaspadaan terkait adanya penyakit Legionellosis di Indonesia. Peringatan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor: HK.02/02/C/4310/2022 tentang Kewaspadaan Terhadap Penyakit Legionellosis di Indonesia yang ditujukan untuk Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota/Provisi, Kepala Kantor Pelabuhan, Kepala Laboratorium Kesehatan Masyarakat dan Direktur Rumah Sakit Seluruh Indonesia.

“Surat Edaran ini dimaksudkan untuk meningkatkan dukungan Pemerintah Daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, Kantor Kesehatan Pelabuhan, Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan, dan para pemangku kepentingan terkait kewaspadaan dini penemuan kasus Legionellosis,” demikian bunyi edaran yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal P2P Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu pada 13 September 2022.

Dr Maxi Rein saat dikonfirmasi membenarkan adanya Surat Peringatan Kewaspadaan Legionellosis dari Kemenkes tersebut. “Betul (dari Kemenkes),” ujarnya ketika dikonfirmasi Kompas.com, Jumat (16/9/2022). Meski demikian, Maxi Rein menegaskan bahwa kasus Legionellosis saat ini belum ada di Indonesia.


Sumber foto: pexels.com

“Belum ada (kasus di Indonesia),” jelasnya singkat. Tentang Legionellosis Disampaikan dalam edaran tersebut, bahwa pada tanggal 30 Agustus 2022, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menerima laporan dari MOH Argentina mengenai 9 kasus Pneumonia yang belum diketahui penyebabnya. Adapun per tanggal 3 September 2022, total ada 11 kasus dengan 4 kematian komorbid.

Dari informasi tersebut disampaikan bahwa berdasarkan penyataan MOH Argentina dikonfirmasi bahwa wabah Penumonia yang disebabkan bakteri Legionella pneumophilia tersebut ditularkan melalui inhalasi melalui air pendingin udara.

Legionellosis merupakan infeksi pernapasan akut yang disebabkan oleh bakteri Legionella yang tergolong genus Leginella dan famili Legionellaceae.

Gejala yang muncul pada Legionellosis di antaranya:

demam
myalgia
diare
dispnea
sakit kepala B

Kemenkes menyampaikan, penyakit tersebut bisa menyerang semua umur terutama kelompok risiko tinggi seperti usia lanjut dan memiliki komorbid, mendapat pengobatan imunosupresi dan faktor risiko lain yang terkait. Adapun masa inkubasi bakteri penyebab Legionellosis berlangsung 2 hingga 10 hari, rata-rata 5-6 hari (tetapi hingga 16 hari pernah dilaporkan dalam beberapa wabah).

Penularan bakteri Legionella pada manusia antara lain melalui aerosol di udara atau karena minum air yang mengandung bakteri Legionella. Penularan dapat pula melalui aspirasi air yang terkontaminasi, inokulasi langsung melalui peralatan terapi pernafasan dan pengompresan luka dengan air yang terkontaminasi.


Sumber foto: pexels.com

Dengan adanya edaran tersebut Kemenkes meminta pihak-pihak berwenang untuk melakukan sejumlah hal. Di antaranya melakukan pemantauan perkembangan kasus Legionellosis tingkat global melalui kanal resmi seperti https://infeksiemerging.kemkes.go.id. Selain itu, pihak-pihak terkait diminta melakukan deteksi kasus Legionellosis di wilayah melalui pelaksanaan surveilans Pneumonia. Serta apabila ditemukan kasus maka diminta untuk melaporkan ke Dirjen P2P.

Tingkat keparahan penyakit Legionnaire berkisar dari batuk ringan hingga pneumonia yang cepat fatal. Apabila penyakit ini tidak diobati biasanya memburuk selama minggu pertama. Kematian akibat penyakit ini tergantung pada tingkat keparahan penyakit, penggunaan pengobatan antibiotik, tempat tertular, dan apakah pasien memiliki penyakit bawaan (seperti imunosupresi).

Tingkat kematian penyakit ini dapat mencapai 40-80 persen pada pasien imunosupresi yang tidak diobati dan dapat berkurang menjadi 5-30 persen melalui manajemen kasus yang tepat, tergantung pada tingkat keparahan tanda dan gejala klinis.

Secara keseluruhan, angka kematian biasanya antara 5-10 persen. Bentuk paling umum dari penularan Legionellosis adalah menghirup aerosol yang terkontaminasi dari sumber air yang terkontaminasi. Adapun sumber yang dikaitkan dengan transmisi Legionella adalah pendingin AC atau kondensor evaporatif yang terkait dengan AC. Selain itu sistem air panas, air dingin, pelembab udara, dan spa pusaran air. Sampai saat ini, tidak ada penularan langsung dari manusia ke manusia yang dilaporkan.