Share It
Berita Unik & Terkini

Mengenal Sejarah PT. Dirgantara Indonesia, BUMN Kesayangan B.J. Habibie
August 15, 2021

Mengenal Sejarah PT. Dirgantara Indonesia,  BUMN Kesayangan B.J. Habibie

Sejarah cikal bakal PT Dirgantara Indonesia bermula pada tahun 1937 ketika seorang mekanik bernama Tossin dipecaya membangun pesawat atas permintaan pengusaha lokal dan beberapa pemuda. Hebatnya, pesawat yang dinamakan PK. KKH tersebut berhasil diterbangkan hingga China dan Belanda.

Pada tahun 1946, Biro Perencanaan & Konstruksi didirikan oleh AURI (sekarang disebut TNI-AU). Tiga sosok penting dalam biro ini, yaitu Wiweko Supono, Nurtanio Pringgoadisurjo, dan Sumarsono. Mereka kemudian membuat Zogling, pesawat ringan NWG-1 di Magetan, Jawa Timur dengan bahan-bahan sederhana. Dalam pembuatannya mereka juga melibatkan Tossin karena pengalaman teknik yang dimilikinya.

Pada tahun 1948, mereka berhasil membuat mesin pesawat pertama yang disebut WEL-X. Pesawat rancangan Wiweko Supono tersebut juga dikenal sebagai RI-X. Pada periode ini, kegiatan penerbangan dilakukan sebagai bagian dari revolusi fisik untuk mempertahankan kemerdekaan dan pesawat yang tersedia dimodifikasi untuk misi tempur. Agustinus Adisutjipto terlibat dalam merancang dan menguji pesawat untuk pertempuran udara. Dia memodifikasi pesawat Cureng menjadi versi serangan darat.

Pada tahun 1953, biro ini dilembagakan menjadi Seksi Percobaan (Bagian Percobaan), di bawah pengawasan Komando Depot Perawatan Teknik Udara pimpinan Mayor Udara Nurtanio Pringgoadisurjo. Berdasarkan desain Nurtanio, mereka berhasil menerbangkan prototype “Si Kumbang”. Pada 24 April 1957, Seksi Percobaan dikembangkan menjadi Sub Depot Penyelidikan, Percobaan & Pembuatan.

Pada tahun 1958, prototype "Belalang 89" dan pesawat sport "Kunang 25" berhasil diterbangkan. Nurtanio dan tiga rekannya bahkan sempat dikirim ke Far Eastern Air Transport Incorporated (FEATI) Filipina, salasatu universitas aeronautika pertama di Asia. Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP), Industri Penerbangan kemudian diresmikan pada 16 Desember 1961.

Badan tersebut berfungsi mempersiapkan pendirian industri penerbangan dengan kemampuan untuk mendukung kegiatan penerbangan nasional di Indonesia. LAPIP kemudian menandatangani perjanjian kerja sama dengan CEKOP, industri pesawat Polandia untuk membangun industri pesawat terbang di Indonesia.

Kontrak tersebut mencakup pembangunan fasilitas pabrik pesawat, serta pelatihan, dan produksi yang berada di bawah lisensi PZL-104 Wilga, yang kemudian dikenal sebagai Gelatik (burung beras). Pesawat tersebut digunakan untuk mendukung kegiatan pertanian, transportasi ringan, dan aero-klub.

Pada tahun 1965, didirikan KOPELAPIP (Komando Pelaksana Industri Pesawat Terbang) atau Komando Eksekutif untuk Persiapan Industri Penerbangan dan PN. Industri Pesawat Terbang Berdikari (Berdikari Aircraft Industry). Tragisnya, pada tahun 1966, Nurtanio tewas saat melakukan uji terbang pesawat. Untuk mengenang jasanya, KOPELAPIP dan PN, Industri Pesawat Terbang Berdikari digabung menjadi LIPNUR (Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio) atau Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio. LIPNUR kemudian memproduksi pesawat latih dasar LT-200 dan membangun bengkel untuk layanan purna jual dan pemeliharaan.

Pada Desember 1973, Dirut Pertamina Ibnu Sutowo bertemu dengan B.J. Habibie di Dusseldorf, Jerman. Dalam pertemuan tersebut terungkap tentang rencana pembangunan Indonesia ke depan, yaitu perihal Pertamina yang berencana mendirikan industri pesawat terbang. Habibie pun diminta kembali ke Indonesia untuk menjadi Penasihat Khusus Pertamina. Pada 26 Januari 1974, Habibie dipanggil oleh Presiden Soeharto. Habibie kemudian diangkat sebagai Penasihat Presiden di bidang teknologi dan diminta menyiapkan pembangunan industri pesawat di Indonesia.

Sumber foto: Istimewa

Pada tanggal 26 April 1976, PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio secara resmi didirikan dengan Dr. BJ. Habibie sebagai Direktur Utama. Fasilitas industri ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada Agustus 1976. Pada 11 Oktober 1985, PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio berganti nama menjadi PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN).

Pada tahun 1980-an hingga pertengahan tahun 1990-an bisa dibilang merupakan masa kejayaan IPTN. Habibie berhasil membangun IPTN, tidak hanya dari segi fasilitas produksi, tetapi juga membangun SDM (sumber daya manusia) yang profesional dan sesuai standar industri penerbangan internasional. Pada masa inilah IPTN berhasil memproduksi CN-235 serta menerbangkan prototype N-250 pada tahun 1995 yang seluruhnya melibatkan putra-putri terbaik Indonesia di bidang teknologi dirgantara.

Krisis moneter yang melanda kawasan Asia termasuk Indonesia pada tahun 1997 nyaris menghancurkan IPTN. Lembaga moneter keuangan internasional (IMF) meminta pemerintah Indonesia menghentikan pendanaan kepada IPTN yang berimbas dihentikannya proyek pesawat N-250 dan N-2130. Keuangan yang memburuk membuat IPTN terpaksa memberhentikan ribuan karyawannya. Saat itu IPTN nyaris bangkrut.

Sumber foto: defense-studies.blogspot.com

Pada 24 Agustus 2000, Presiden Abdurrahman Wahid mengubah IPTN menjadi PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI). Pembenahan pun mulai dilakukan dan perlahan PT. DI mulai bangkit dari keterpurukannya dan akhirnya bisa kembali beroperasi memproduksi pesawat. Saat ini, selain memproduksi varian pesawat CN-235 dan CN-295 untuk TNI dan pasar internasional, PT. DI juga tengah mengembangkan pesawat N-219 yang diharapkan nantinya mampu menjadi transportasi penghubung antarpulau di Indonesia.

AI